Sabtu, 17 Oktober 2026 Berita Terkini & Terpercaya
ch7gram.comch7gram.com
ch7gram.com - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Review › Budaya Makan Bersama: Tradisi yang Mulai Ditinggal...
Review

Budaya Makan Bersama: Tradisi yang Mulai Ditinggalkan

Tradisi makan bersama keluarga mulai terlupakan di generasi urban. Mari kita ingat kembali pentingnya momen ini untuk keluarga.

Budaya Makan Bersama: Tradisi yang Mulai Ditinggalkan

Makan Bersama, Lebih dari Sekadar Makan

Gue masih ingat banget waktu kecil, setiap hari makan siang pukul 12 siang adalah momen yang ditunggu-tunggu. Semua keluarga berkumpul di meja makan, dari Ibu, Ayah, kakek, nenek, sampai pembantu rumah tangga. Obrolan ringan sambil nikmatin nasi kuning dengan lauk pauk buatan Ibu selalu jadi bagian terbaik dari hari gue.

Tapi sekarang? Makan sudah jadi kegiatan yang bergerak cepat. Semua sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, dan kalau makan pun sering sendiri sambil scroll TikTok atau sambil kerja.

Perubahan Pelan-pelan yang Bikin Sedih

Kalau kamu lihat sekarang, tradisi makan bersama keluarga bukan lagi hal yang utama. Banyak keluarga muda di kota-kota besar yang lebih sering makan dengan pesanan aplikasi, dimakan di kamar masing-masing. Yang tadinya jadi momen bonding, sekarang jadi aktivitas yang dilakukan bersamaan tapi sendirian.

Survei sederhana yang gue lakukan dengan teman-teman kantor menunjukkan hal yang menarik. Dari 20 orang, hanya 3 yang masih rajin makan bersama keluarga setiap hari. Sisanya? Makan bareng paling cuma pas weekend, atau bahkan cuma pas ada perayaan khusus. Padahal dulu, kebiasaan ini adalah normal sekali.

Mengapa Ini Terjadi?

Pertama, jadwal kerja yang gila-gilaan. Seseorang pulang jam 8 malam, terus harus siapkan anak sekolah besok, dimana ada waktu untuk makan bersama? Kedua, teknologi yang membuat orang malas keluar rumah. Tinggal order, bayar, dan tunggu di depan pintunya. Ketiga, gaya hidup urban yang individualistik. Semua orang punya agenda sendiri, dan merasa lebih praktis kalau makan sendiri.

Apa yang Kita Hilangkan?

Tapi yang sering diabaikan adalah, makan bersama bukan cuma soal "makan". Ini tentang komunikasi, tentang menunjukkan perhatian ke keluarga, tentang menciptakan kenangan bersama. Ketika kamu makan bersama, kamu punya kesempatan buat dengarin cerita Ibu hari ini, tanya gimana sekolahnya si anak kecil, atau sekadar ketawa bareng-bareng.

Budaya Makan Bersama: Tradisi yang Mulai Ditinggalkan
Foto: İdil Ceren Çelikler / Pexels

Gue pernah baca penelitian yang bilang anak-anak yang sering makan bersama keluarga punya nilai sekolah yang lebih baik dan mental yang lebih sehat. Masuk akal sih, karena mereka merasa didengarkan dan dihargai.

Keindahan dalam Hal-hal Sederhana

Ada sesuatu yang magis dalam budaya makan bersama kita. Waktu itu bukan cuma tentang isi perut, tapi juga tentang tumbuh bersama, belajar dari orang tua, mendengarkan nasihat nenek yang penuh kebijaksanaan. Sekarang semua itu hilang, diganti dengan notifikasi WhatsApp atau panggilan dari kantor.

Mulai dari Hal Kecil

Tapi tunggu, ini bukan berarti kita harus surrender. Kamu bisa mulai dari hal kecil. Misalnya, setiap hari Jumat malam, keluarga harus makan bersama—tanpa HP. Atau kalau pagi terlalu ramai, coba biasakan makan malam bersama minimal 3 kali seminggu.

Gue sendiri udah mulai ngerjain ini. Setiap hari Minggu, gue ajak Ibu dan Ayah makan di rumah, nggak boleh pesan dari luar. Kita masak bareng-bareng sambil obrolan santai. Hasilnya? Gue jadi tahu lebih banyak tentang kehidupan orang tua, dan mereka jadi tahu lebih banyak tentang pekerjaan gue.

Mungkin ini terdengar klasik atau ketinggalan zaman, tapi budaya makan bersama adalah warisan yang nggak boleh kita sia-siakan. Di tengah dunia yang bergerak cepat ini, momen-momen sederhana bareng keluarga adalah yang paling berharga. Jadi, kapan kamu mau mulai?

Tags: budaya lokal tradisi keluarga sosial budaya gaya hidup warisan budaya

Baca Juga: asustotoslot.com